Home » Cerpen »
Cerpen Yogira Yogaswara
Perempuan Itu Bernama Firouza
Minggu, 30 Agustus 2009 | 10:53 WIB
A A A Dibaca 830 kali

ANGKELmerasa telah kehilangan dunia. Ingin sekali meninggalkan hidup kala cinta mendadak mengoyak-ngoyak perasaannya. Padahal, yang saya tahu, Angkel bukan tipikal lelaki cengeng. Apalagi karena cinta. "Perempuan itu bernama Firouza," bisiknya lirih kepada saya. Dia mengutarakan nama itu pada saya di tepian Danau Toba.

    Kerinduanku pada Firouza seperti denyar air hujan menimpa ketenangan Danau Toba saat senja semakin matang. Demikian Angkel menuliskan kalimat itu pada buku catatan yang selalu dibawanya. Dia mengaku, baru saat ini benar-benar patah hati. Tapi lidahnya selalu tersekat jika akan mengucapkan kata cinta pada gadis itu. "Saya memang pecundang!" ungkap Angkel. Matanya menerawang.

    "Menurutku, Firouza tidak tahu bahwa kamu sangat mencintai dia. Sama halnya seperti saya terhadap Ocha. Dia cuma tahu saya hanya seorang teman. Sudahlah, Pak! Kita sama-sama pecundang sejati, seperti udang yang mau mati," Saya mencoba menghiburnya.

    Saya jadi teringat Leila Chudori, wartawan yang mengulas film di sebuah majalah, judul filmnya saya lupa. Dalam satu paragrafnya, saya ingat sekali satu kalimat: "Cinta, segila apa pun bisa meniupkan roh kehidupan." Saya jadi semakin memahami soal cinta karena kalimat itu. Saya pun memberi tahu Angkel soal ungkapan indah itu dan berjanji akan mengingatnya sampai kapan pun. Suatu saat dia akan memberitahukannya lagi pada kekasih yang dicintainya. Saya tanya, apakah kekasih yang dimaksud adalah Firouza. Dia tak menjawab. Bagi dia, Firouza tak perlu jawaban itu. Sebab dia ragu, apakah dia kelak akan mencintainya atau melupakannya begitu saja.

    "Jangan terlalu sering membicarakan Firouza. Saya sedang berusaha melupakannya, meskipun saya akui itu sulit sekali. Lebih baik kita bicarakan rencana perjalanan selanjutnya. Besok kita ke Yogya, kan?" kata Angkel, berusaha menghibur diri.

    Di Yogyakarta, kami lebih memilih menginap di losmen ketimbang di hotel. Kalau teringat losmen, saya teringat dengan sinetron Losmen Bu Broto sewaktu saya masih kanak-kanak. Keakrabannya sangat terasa.

    Malamnya, saya dan Angkel mencoba melupakan cinta terhadap perempuan dengan berjalan-jalan di sekitar Malioboro dan pinggiran Pasar Beringharjo. Kami berdua menunggu upacara "Ngubeng Benteng" untuk menyambut Malam Satu Suro. Dua jam kemudian, banyak orang berkumpul di sekitar keraton, lalu berjalan mengelilingi benteng keraton sambil membisu. Kami terpana, mungkin mereka melakukan itu karena cinta juga. Cinta pada tradisi. Cinta pada illahi. Di antara mereka, banyak yang bergandeng tangan. Tanpa sadar, saya dan Angkel bergandeng tangan juga. Erat sekali. Tapi, sekelebat bayangan Ocha datang lagi. Saya membayangkan yang digandeng saya adalah Ocha. Entah kalau Angkel. Apakah dia merasakannya sama seperti saya.

    Besoknya, sekitar pukul 10 pagi, kami meninggalkan losmen, menuju Kaliurang. Sampai di Kaliurang, keletihan perjalanan kami terbayar dengan kesejukan alamnya. Pohon-pohon pinus berjejer rapi seperti pasukan baik hati. "Seandainya Firouza ada di sini, mungkin saya akan berbagi cerita bukan dengan kamu," ujar Angkel. Murung.

    Saya terkejut setelah Angkel mengatakan itu. Tiba-tiba dia bersayap. Kemudian melayang. Tangan kanannya berubah jadi kuas. Tangan kirinya jadi palet dengan isi cat hanya berwarna putih. Dia terbang di atas jurang, di depan mata saya. Angkel melukis. Dia sedang melukis seorang perempuan di udara. Tangannya begitu lincah. Lukisan wajah Firouza tercipta. Mulai dari matanya, alisnya yang bergerigis, serta bibirnya yang merekahkan senyum. Lalu lukisan itu hidup dan berbicara pada Angkel.

    "Angkel, sungguh, aku benci berbicara soal cinta. Dalam tradisi keluargaku, cinta hanya bisa ditentukan oleh orang tua. Mereka memilihkan seseorang yang pantas buatku. Bagiku, dunia ini memang gila! I bind with the damn culture! So, please stop talking about love to me. I'm not deserve to get love from any one. I only can hurt them."

    Suara itu keluar dari lukisan Firouza. Saya pandangi Angkel yang terus menatap lukisan Firouza. Lelaki itu termangu ketika lukisan Firouza menghilang disapu angin.
**

    PONSEL saya berdering. Saya mengangkatnya ogah-ogahan. Panggilan nomornya tak saya kenal. Tapi akhirnya, saya angkat juga. "Halo? Saya Dicky, temannya Dyah. Katanya kamu penulis lepas?" ujar penelepon itu.

    "Ya betul. Ada apa?" jawab saya pendek

    "Kamu mau nggak itu ikut saya travel ke Berau, Kalimantan? Kami ada ada proyek di sana. Kami harus menulis tentang kehidupan suku Dayak Punan. Bagaimana?" ajak Dicky.

    Saya langsung mengiyakan ajakan itu dan memberi tahu Angkel juga agar membatalkan rencana penjelajahan ke Malang, Madura, dan Lombok. Sebab, bagi saya, Kalimantan adalah salah satu tempat yang eksotis juga dan yang penting, bisa mengirit rencana biaya penjelajahan. Dicky menjanjikan, semua biaya ditanggung oleh LSM-nya.

    Hampir seminggu kami di Berau. Kami mengunjungi anak-anak Dayak Punan yang bersekolah di sebuah SD dengan bangunan sederhana. Kami berkenalan dengan Lina, anak kelas 2 SD yang sudah berusia 13 tahun, dan Tuti, berusia 12 tahun, yang duduk di kelas 1. Kedua anak ini berambut hitam legam. Jika dibanding-bandingkan, bintang iklan sampo pun pasti kalah dengan kemilau hitam rambutnya.

    "Aku masih ingat Firouza. Seandainya dia ada di sini, pasti dia menyayangi Lina dan Tuti. Firouza adalah perempuan yang penuh perhatian dan menyayangi anak-anak. Aku ingin membuat prasasti cinta buat dia di sini," ujar Angkel.

    Saya cuma tersenyum mendengar omongannya itu. Saya maklum, Angkel suka berimajinasi. Saya juga ingin berimajinasi soal Ocha. Tapi saya selalu berpikir, apakah imajinasi bisa menaklukkan cinta?

**
    PENJELAJAHAN di Berau selesai. Dicky berniat pulang ke Jakarta. Tapi saya dan Angkel berencana ke Manado. Kami pun berpisah.

    Manado malam hari. Kami duduk mencangkung dekat dermaga. Perahu-perahu masih ada yang berlayar. Dari kejauhan, tampak Gunung Manado tua samar-samar tertutup kabut. Gunung itu seperti cinta, gaib dan penuh rahasia. Saya jadi teringat Ocha lagi. Ketika Angkel memegang tangan saya, dia juga mengatakan, dia tidak bisa melupakan Firouza.

    Esok paginya, kami berlayar ke Pulau Bunaken. Cinta menebar di sepanjang perjalanan ke tempat itu. Tampak ikan-ikan berwarna-warni dengan berbagai jenis berkejaran disinari cahaya matahari yang menembus hamparan terumbu karang. Tiba-tiba, Angkel menyelam ke dasar laut. Saya tidak melarangnya. Saya sudah terbiasa dengan kelakuannya. Dia menyelam diiringi ratusan ikan kecil yang menari- nari. Tampak Angkel menciduk-cidukkan tangannya di antara ikan itu. Ternyata dia melukis lagi Firouza di dalam air laut. Wajah Firouza kembali membayang di terumbu karang. Sekumpulan ikan kecil mengecup keningnya dengan lembut. Firouza tersenyum. Angkel merasa bahagia. Saya ikut bahagia juga meskipun itu cuma bayangan.

    "Apakah kamu bisa melukiskan Ocha seperti yang saya lakukan sekarang ini?" tanya Angkel kepada saya.

    Saya tidak bisa menjawab. Sebenarnya saya tidak mau membayang-bayangkan lagi Ocha seperti yang dilakukan Angkel terhadap Firouza.

    Ponsel Angkel berbunyi. Pada layar terlhat nama Firouza. Saya ingin segera memberitahu Angkel. Tapi, saya tak bisa menyapanya. Angkel terlalu dalam menyelam lautan. Tanpa setahu Angkel, saya mengangkat ponselnya.

    "Halo, ini Angkel? Di mana kamu sekarang?" suara perempuan keluar dari ponsel. Tapi saya membiarkannya.
"Maafkan aku, Angkel. Kita tak mungkin bertemu lagi. Aku harus segera pulang ke negeriku. Sejak lahir, cintaku sudah terikat dengan perjanjian orang tuaku. Aku harus segera menikah."

    Saya mematikan ponsel Angkel. Buat apa memberitahu Angkel tentang kabar dari Firouza. Toh, dia sedang asyik mencari cinta yang lain di kedalaman laut. Aku lebih memilih mengingat-ingat Ocha. Dia bukanlah bayangan. Dia masih ada. Kalau Tuhan memberikan ruang dan waktunya untuk bertemu, pasti kami akan bertemu lagi. Biarkanlah waktu yang menjawabnya, dengan atau tanpa cinta.

    Tiba-tiba aku melihat tangan Angkel menyembul menuliskan sebaris kalimat di kebiruan laut sekitar Pulau Bunaken: "Perempuan itu bernama Firouza." Kalimat itu seperti mengambang. Tapi tangan Angkel kembali tenggelam. Tak muncul lagi. Selamanya.
***
(Buat siapa saja yang merasa kehilangan cinta)
Indonesia, 2008-2009
 

  • Yogira Yogaswara, lahir di Ciwidey, Bandung Selatan, 19 Maret 1973. Tulisannya berupa esei, resensi buku, puisi, dan cerpen pernah dipublikasikan di sejumlah media cetak Bandung, Jakarta, Yogyakarta. Sebagian puisinya termuat di antologi bersama: Tanah Wanasari (1998) dan Bandung dalam Puisi (YJSB, 2001).
Editor :
Akses http://m.tribunjabar.co.id dan dapatkan berita terbaru langsung di ponsel anda.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
MEMBAHAYAKAN
Galeri Foto
MEMBAHAYAKAN
more on galeri foto
Sabtu, 22 Mei 2010 | 15:18 WIB
Sabtu, 9 Januari 2010 | 22:53 WIB
Sabtu, 3 Oktober 2009 | 22:42 WIB
Sabtu, 12 September 2009 | 23:07 WIB
Minggu, 6 September 2009 | 11:36 WIB