PEREMPUAN itu masih menyalakan petromaks di rumahnya dan membersihkan debu dengan sisa-sisa napasnya.
DAHULU, ia diperebutkan laki-laki di desanya, bahkan hampir disayembarakan layaknya putri raja. Terkadang ia bingung, apa yang diinginkan laki-laki itu sampai ia tak bisa berjalan bebas bahkan sampai pergi belanja ke warung pun tubuhnya tak pernah sepi dari colekan mereka.
Ia pasrah ketika ada seorang laki-laki dari desa sebelah datang meminangnya. Entah apa yang dirasakannya saat itu. Ia hanya diam tersipu malu tak menjawab, pertanda ia menerima, begitu kata orang tua. Padahal laki-laki itu meminangnya dengan sebuah petromaks. Ya, petromaks. Di kampung Bojong memang belum ada lampu, tiap rumah selalu menyalakan petromaks. Kebetulan perempuan itu tidak punya petromaks di rumahnya, makanya ia rela menikahinya. Mungkin juga ia mencintainya, karena jika dilihat dengan memakai cahaya petromaks ia sangat tampan layaknya pangeran.
Setelah menikah, mereka belum dikaruniai seorang anak apalagi ketika lelakinya pergi merantau ke kota untuk menghidupi kebutuhan keluarga. Awal mereka berpisah kerinduan masih menyala. Namun, setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, lelakinya sudah jarang pulang. Entah.
Menurut kabar berita dari tetangga yang bisa melihat lewat kacamata perasaannya, lelakinya nyangkut di perempuan kota saat berjalan hendak mencari pekerjaan, atau lelakinya terlalu senang dengan uang pendapatannya sehingga ia tidak ingat pada perempuan yang dulu dipinangnya. Sayangnya, perempuan itu tidak pernah percaya pada omongan tetangga yang mendadak jadi dukun semua. Ia tak pernah menghiraukan juga tak membencinya. Bagi dia, omongan tetangga adalah sebuah hiburan di saat hati sedang kesepian. Itulah satu-satunya penyemangat hidup karena semakin banyak yang bicara tentang lelakinya, semakin ia begitu yakin bahwa mereka peduli pada dirinya.
**
PADA suatu malam yang gelap, lelakinya datang lewat pintu belakang. Ia masih tahu kebiasaan perempuannya, menyalakan petromaks dan tak mengunci pintu, padahal mereka sudah terpisah bertahun-tahun. Ia seakan teringat perkataan perempuannya, "Kang, pintu ini tidak akan Neng kunci sebelum Akang datang kembali."
Kenangan itulah yang membuat lelakinya diam menatap wajah perempuannya yang hitam tertutup asap petromaks, lalu ia mengelap wajahnya seperti ketika ia mengusap air matanya.
"Ah, jangan terlalu lama menatapnya, subuh nanti harus segera pergi."
Ia tidak berani memotong mimpi perempuannya, karena hanya dengan mimpinya ia bisa tersenyum walaupun sendiri. Kemudian azan pagi mengantarnya pergi. Ia hanya meninggalkan beberapa lembar uang di dekat petromaks.
"Gambar uang seperti ini telah ganti berkali-kali. Sebenarnya Neng takut kalau nanti kita bertemu, apakah Neng masih mengenal Akang?"
Kata-kata itu yang selalu ia ucapkan ketika lelakinya meninggalkan uang.
**
TAK ada suara tangis bayi, tak ada kesibukan bikin sarapan pagi ataupun keramaian perang antarmulut yang biasa terjadi di sebuah keluarga ketika suaminya tidak memberi nafkah.
Rumah itu begitu mati dan sepi. Hanya tiap pagi dan sore ia membukakan pintu dengan lebar, supaya ketika pagi udara masuk berduyun-duyun seperti para tetangganya yang datang berduyun-duyun setelah pulang dari warung. Mereka tak hentinya berubah wujud menjadi dukun sakti yang meramal keadaan lelakinya. Masih saja ia tersenyum kecil. Tapi semakin lama senyumnya jadi layu ketika mereka mengatakan penyebab lelakinya tak pernah datang kembali.
Saat senja menahan air matanya, ia tetap menyalakan petromaks di pintu belakang sambil memegang beberapa lembar uang.
"Kang, Neng pasti mengenalmu seperti uang yang kamu tinggalkan ini meskipun sudah ganti berkali-kali, tapi Neng tidak lupa jumlah rupiahnya."
Perempuan itu tak berniat memasang lampu, padahal di kampung Bojong sudah tak ada lagi yang menggunakan petromaks. Menurutnya, adanya penerang lampu itu jika jumlah keluarga bertambah maka kebutuhan pun bertambah. Sedangkan dia, semenjak ditinggal lelakinya merantau, rumah semakin sepi dan kebutuhan semakin berkurang.
Sebelum pintu ditutup, datang seorang laki-laki yang dulu menginginkannya dan sekarang wajahnya semakin keriput, wajar saja sudah beranak. Tiba-tiba ia menawarkan sawah, asalkan ia mau menikahinya. Ternyata dia masih mengharapkan jadi suami yang dicintainya padahal sebentar lagi akan menikahkan anak pertamanya.
"Tidak mungkin saya menikahi Akang. Akang juga tahu saya sudah bersuami bahkan sebelum Akang menikah," jawabnya halus.
"Tapi Neng, si Dasep sampai sekarang tidak pernah menemanimu bahkan kamu belum mengandung anaknya. Kamu tahu bagaimana kabarnya sekarang?"
Perempuan itu menunduk tapi tetap percaya.
"Saya percaya Kang Dasep pasti pulang."
"Kapan?!" suaranya semakin lantang.
"Tidak tahu, tapi kapan pun itu, saya masih istrinya Kang Dasep."
"Hah, keras kepala kamu, padahal kalau dulu kamu menikah denganku, nasibmu tidak akan seperti ini."
Lelaki itu namanya Jamal. Ia terkenal kaya. Sawahnya di mana-mana. Perkebunan dan beberapa binatang ternak. Sebelum menikah ia pernah meminangnya dengan menjanjikan sawah berlimpah. Dan sudah lumrah lelaki kaya punya banyak istri. Salah satunya ia menginginkan Sarah jadi istri ketiga. Ia juga tak jauh beda dengan ibu-ibu warung datang hanya menghasud. Memang pada akhirnya mereka lelah sendiri cas-cis-cus, tapi ia tak pernah mengangguk-anggukkan kepala. Dan pada akhirnya juga mereka pulang dibekali kekesalan. Nyerocos menjelekkan Sarah dan lelakinya.
Jamal pun pulang ketika azan magrib berkumandang. Perempuan itu menutup pintu dan tak menguncinya. Ia mengambil air untuk bersuci dan berdoa untuk keselamatan lelakinya. Sebelum tidur ia selalu membaca Alquran sampai terlelap di atas sajadah, bangun-bangun ketika subuh mengetuk gendang telinganya.
Sebagai perempuan, ia juga merindukan kesibukan. Sibuk beres-beres rumah, belanja, dan menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Ia juga kadang ingin bertengkar seperti tetangganya atau ingin tersenyum bahagia ketika seorang anak mencium tangan orang tuanya sebelum berangkat sekolah.
Hanya tak semua perempuan seperti itu. Ia tak bisa tersenyum karena tidak tahu apa yang ia bahagiakan. Ia tak bisa marah supaya ada pertengkaran karena tidak ada penyebabnya. Ia juga tak bisa menangis karena ia selalu percaya bahwa nanti ia akan seperti perempuan itu.
Tiba-tiba seorang ibu sudah nongkrong di wajahnya.
"Neng Sarah, kalau ibu seperti Neng, pasti sudah ibu ceraikan si Dasep. Coba Neng pikir lagi, kapan si Dasep menemui Neng?"
"Kang Dasep sering pulang, kok, Bu."
"Neng tahu dari mana?"
"Kang Dasep sering ninggalin uang di dekat petromaks."
"Neng yakin itu si Dasep? Bisa saja kan dari laki-laki lain."
"Tidak mungkin, Bu. Kang Dasep masih tahu kebiasaanku menyalakan petromaks."
"Ah, Neng ini aneh. Terserah, deh. Ibu cuma ngasih tahu jangan terlalu percaya sama laki-laki seperti Dasep."
Akhirnya pikiran perempuan itu dihinggapi berbagai pertanyaan. Mungkin gara- gara mereka yang sering menjelma dukun. Selintas gambar lelakinya berjalan memegang tangan mulus. Saling lempar senyum. Hingga tidak ingat bahwa ia sudah beristri beberapa tahun yang lalu. Tahun ketika perempuannya masih mampu menggoda mata laki-laki. Ia bersandar di rumah bilik yang temaram. Mendekap petromaks. Mengalirkan kesetiaan di matanya. Selama ini ia tidak pernah menghiraukan ramalan tetangga, tapi mereka sering memaksa bicara sehingga menghancurkan perasaan yang telah lama dibangun dengan kepercayaan. Mereka tidak pernah ikut memperbaiki kerapuhannya setidaknya bicara yang baik tentang lelakinya.
Ia perempuan yang selalu pura-pura kuat. Percaya. Lelakinya tidak mungkin beristri lagi. Ia masih ingat ketika lelakinya datang membawa sebuah petromaks yang waktu itu sangat diimpikan. Bukan sawah yang berhektar. Dan begitu yakin petromaks itu hanya ada satu.
**
PADA pagi yang berkabut, siang yang membakar, senja yang terbenam hingga malam yang lelap, lelakinya belum juga mengunci pintu, tapi sebagai perempuan ia masih setia menyalakan petromaks dan membersihkan debu dengan sisa-sisa napasnya.
***
Rahayu, 27 Januari 2009
Ellie R. Noer/Eli Nurhalimah, mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, UPI. Aktif di HIMA Satrasia, bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS). Karyanya pernah dimuat di buletin Liwa, jurnal DerAs, buletin Alis Solo, buletin Literat, Radar Banten, dan antologi bersama Diktator Anti-Soeharto (Solo) dan antologi puisi perempuan ASAS Sihir Terakhir. Tinggal di Bandung.