/ Home / Opini / Referat /
Pengemis dan Pemaksaan Rasa Iba
Senin, 7 September 2009 | 10:49 WIB

BENARKAH seseorang yang memutuskan dirinya untuk menjadi pengemis karena ia sudah benar benar tidak punya pilihan selain dengan melakukan pekerjaan mengemis? Lalu, apa yang bisa kita jelaskan bila di saat seperti bulan Ramadan ini, ketika orang lain sedang intens menapaki tingkat religiusitasnya, jumlah pengemis malah meningkat drastis membanjiri kota-kota besar seperti Kota Bandung ini?

    Bukankah hal ini merupakan pemanfaatan situasi dari sebagian orang ketika orang lain tengah berupaya memperbanyak amal seperti misalnya melalui sedekah? Inilah yang kemudian bisa menjelaskan mengapa terjadi fenomena yang disebut dengan pengemis musiman. Selain para pengemis yang memang sudah rutin melakukan aktivitasnya di tengah dinamika kota, para pengemis musiman datang ketika orang sedang ditempa jiwanya untuk melakukan kebaikan.

    Lihatlah di pasar pasar, terminal, perempatan jalan, halaman pertokoan, halaman masjid, dan lain lain, mereka meluber mengharap belas kasihan. Padahal di bagian lain, kita kerap menyaksikan pemandangan yang paradoks. Ada kakek yang sudah terbilang lanjut usia, tetapi tetap bekerja keras bermandi keringat menjadi kuli panggul, kuli jalan, tukang becak, tukang sol sepatu, pedagang keliling, dan lain lain. 

    Sebaliknya, ada pula orang yang justru masih nampak jagjag waringkas malah dengan segala cara tampil untuk menarik rasa iba orang lain dengan menadahkan tangan. Ada yang pura-pura cacat, pura pura mengidap luka mengerikan, dan bermacam perilaku lainnya.

    Di titik ini, kita pun kadang dibenturkan pada posisi yang dilematis. Ada keinginan untuk memberikan sedekah kepada pengemis, tapi pada saat yang sama juga sadar bahwa hal itu tidak mendidik. Bukankah semua orang harus berupaya mandiri dengan bekerja apa saja? Lagi pula, dengan mengemis itu sesungguhnya orang telah membenamkan harga dirinya sendiri dan lambat laun menjadi tergantung pada belas kasihan orang lain.

    Di samping itu, mendapatkan uang dengan cara mudah hanya dengan menadahkan tangan dengan sendirinya akan membuat mereka semakin kehilangan spirit untuk berusaha. Kenyataan inilah yang kemudian kerap menggugah perhatian.

    Tak kurang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun tergerak. Menyusul fatwa MUI Kabupaten Sumenep Jawa Timur yang mengharamkan mengemis dan telah disetujui MUI pusat (Tribun Jabar, 27/8), fatwa tersebut juga didukung MUI di beberapa daerah lain di tanah air.

Pemaksaan Rasa Iba
    Lepas dari soal motif seseorang yang menjadikan dirinya sebagai pengemis, tentu saja meruyaknya pengemis ini tak lepas dari persoalan kemiskinan. Aktivitas mengemis adalah salah satu wujud nyata bahwa betapa kemiskinan masih merupakan masalah terbesar yang dihadapi bangsa ini. Namun untuk melepaskan diri dari kemiskinan dengan mengemis. Karena mengemis bukanlah jalan menuju kesejahteraan.

    Apalagi disinyalir, sebagian dari pengemis nyatanya berada di bawah koordinasi orang yang menempatkan dirinya sebagai koordinator. Bayangkan, di samping pengemis itu sendiri menjadi objek eksploitasi, orang yang memberi sedekah pun sesungguhnya menjadi korban dari sebuah organisasi yang memaksanya untuk jatuh iba, dan kemudian rela ataupun terpaksa mengeluarkan sedekah. Sebuah teror terhadap rasa kemanusiaan untuk segera membuat keputusan memberikan sedekah walaupun tahu bahwa dengan begitu para pengemis akan semakin terbiasa menadahkan tangan.

    Bila demikian, penanganan terhadap masalah pengemis memang menjadi makin kompleks. Salah satu jalan yang bisa ditempuh dalam menanggulangi, atau setidak tidaknya mengurangi pengemis, adalah melakukan pemberdayaan terhadap mereka. Perspektif Departemen Sosial dalam hal pemberdayaan bisa dikonstruksikan dalam penanggulangan masalah ini. Pertama, diperlukan partisipasi masyarakat dalam setiap proses pemberdayaan terhadap pengemis sehingga semua pihak memiliki pemahaman yang sama terhadap masalah yang dihadapi.

     Kedua, diperlukan aktualisasi nilai nilai spiritual dan kearifan lokal. Bahwa agama mengajarkan kepada kita untuk giat bekerja. Mengemis adalah perilaku tak terpuji yang tak pantas dilakukan, apalagi oleh orang orang yang masih mempunyai kekuatan fisik. Demikian juga budaya masyarakat kita yang memang menghargai orang yang mau bekerja keras.

    Ketiga, diperlukan penguatan profesionalisme pelaksana program dan kelembagaannya. Hanya dengan pelaksana yang memiliki profesionalisme serta kelembagaannya yang fokus pada permasalahan, soal pengemis ini bisa diatasi.

    Keempat, diperlukan pengembangan budaya kewirausahaan sehingga muncul sikap mental yang mau belajar untuk melakukan usaha. Setelah mereka mampu berusaha dan sudah menunjukkan indikator kemandirian, kemudian dibiasakan agar mereka dapat menyisihkan sebagian dari pendapatannya guna peningkatan kualitas hidup di masa depan.

    Kelima, perlu dijalin kemitraan sosial dengan berbagai pihak, seperti dunia usaha, LSM, perguruan tinggi, perbankan, dan lain lain. Diperlukan pula advokasi sosial, terutama karena banyak di antara pengemis yang menjadi objek eksploitasi koordinatornya.

    Selain itu, diupayakan agar para pengemis mendapatkan akses terhadap pelayanan sosial dasar, peningkatan kualitas hidup, dan kesejahteraannya. Untuk itu, diperlukan program dengan pendekatan yang memungkinkan mereka mempunyai keterampilan dan memiliki kemudahan dalam menerapkannya. Sudah saatnya kebijakan program berpihak kepada fakir miskin kalau memang bangsa ini ingin keluar dari kemiskinan.

    Dan, bagi para pengemis sendiri, satu hal yang kiranya perlu diresapi adalah bahwa perilaku mengemis sesungguhnya merupakan perilaku yang menafikan kemampuan serta esensi fitrah untuk melakukan kewajiban mencari nafkah. (*)
 

Dibaca 1316 kali  |  Dikomentari 1 kali
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

Kalo dipikir-2, mengemis tuh pekerjaan yang paling mudah sih, tanpa keahlian khusus hehe..... Ulasan yang menarik bro...

Komentar Oleh: HumorBendol | Senin, 16 November 2009 | 21:27 WIB

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Menggali Longsor di Tenjolaya
Galeri Foto
Menggali Longsor di Tenjolaya
more on galeri foto
Kamis, 21 Januari 2010 | 19:59 WIB
Senin, 28 September 2009 | 10:28 WIB
Senin, 7 September 2009 | 10:49 WIB
Senin, 22 Juni 2009 | 00:43 WIB