Home » Cerpen »
Khidir
Minggu, 13 September 2009 | 04:30 WIB
A A A Dibaca 748 kali

    AKHIRNYA aku dan dia dalam posisi yang sama. Aku, si anak jalanan yang tak pernah tahu siapa orang tua dan bagaimana aku bisa terdampar di kolong jembatan yang kemudian kusebut rumah, bersaudara dengan para gelandangan, pengemis dan pelacur-pelacur setengah tua yang sudah dibuang dari lokalisasi karena tak lagi mampu menarik pelanggan-pelanggan berkantong tebal yang tentu saja akan lebih memilih sundal lain yang masih muda dan sintal. Dan dia, seorang lelaki berwajah oval dengan kulit putih bersih namun selalu menampakkan ekspresi dingin serupa tengah menyimpan gejolak pikiran yang luar biasa yang kutemui di pinggir jalan raya ketika aku masih berusia 12 tahun. Sejak saat itu kami selalu bersama. Dengan girang aku tinggalkan jembatan dan saudara-saudaraku dengan pengharapan dapat hidup yang lebih baik, paling tidak tiap hari bisa makan tiga kali sehari tanpa harus bersusah payah mengemis di perempatan jalan, itu pun kadang tidak cukup untuk membeli lauk telur, belum lagi kalau preman-preman yang lebih besar dari aku meminta uang untuk membeli rokok atau minuman keras. Jadilah kadang dalam sehari aku hanya makan sepiring nasi tanpa lauk.

    Jalanan membuat aku dewasa lebih cepat dari seharusnya, paling tidak jika dibandingkan dengan anak-anak sebayaku yang tiap hari dikirim orang tuanya ke sekolah hanya untuk belajar mengerti: ini ibu Budi, ini bapak Budi, tanpa pernah tahu bahwa ada sekian banyak Budi di jalanan yang tak berbapak dan beribu. Anak-anak itu tak pernah mengerti rasanya lapar, semua kebutuhan mereka tercukupi hingga otaknya menjadi bebal. Aku tahu semua ini dari seorang anak yang bersekolah tak jauh dari perempatan tempat aku mangkal untuk mengemis dulu. Dia selalu memberiku receh yang kukira sisa uang sakunya, lalu dengan bersemangat bercerita tentang sekolahnya, tentang ayah ibunya yang baru membeli mobil baru, juga tentang sepatu hadiah dari kakaknya yang bekerja di luar negeri dan banyak hal lain yang membuat aku susah menahan muntah. Bagiku lebih baik mendengar makian sundal-sundal kolong jembatan daripada berbicara dengan anak ini, tapi aku membutuhkan recehannya, oleh karena itu aku berusaha meredam telingaku yang mudah memerah marah oleh ucapannya yang penuh kesombongan.

    Mungkin kedewasaan dan cara berpikirku yang berbeda dengan anak kebanyakan itulah yang membuat lelaki itu mengajakku tinggal di rumahnya. Tapi rasanya kurang tepat juga kalau tempat kami tinggal itu disebut rumah. Entahlah, aku tidak tahu. Toh sejak kecil aku telah terbiasa menyebut sembarang tempat yang bisa dibuat tidur sebagai rumah. Lelaki itu selalu mengajakku berpindah-pindah. Kami, tepatnya lelaki itu karena dia yang membayar semua, menyewa kamar kos dan meninggalkannya untuk mencari kamar kos lain tak pernah lebih dari dua minggu dan aku tanpa bertanya selalu dengan senang hati mengikutinya. Aku juga tidak bersekolah. Aku telanjur kecewa dengan mental dan pemikiran kentut dari orang-orang sekolahan dan ternyata lelaki itu mendukungku.

Dia benar-benar seorang yang pendiam. Dia tidak penah mengajakku berbicara banyak selain ketika makan malam. Aku menduga dia mengalami masa lalu yang buruk dan kelam, mungkin sama kacaunya dengan masal laluku. Dia tidak bekerja seperti kebanyakan orang yang pergi pagi pulang sore atau berangkat sore sampai rumah pagi, hanya saja dia sering mengajakku menjual kalung, cincin, atau anting emas berukuran kecil yang aku tak tahu dari mana, dan setelah itu bisa dipastikan kami akan segera mengepak barang-barang untuk pindah ke daerah lain.

    Toh kemudian, beberapa bulan setelah aku tinggal dengannya, sesudah berkali-kali pertanyaanku tentang apa yang dilakukannya dan alasan kenapa kami harus berpindah kos sesering itu tidak mendapat jawaban, dia mengajakku melakukan sesuatu yang kemudian membuatku bergidik ngeri untuk beberapa saat dan membuatku memperoleh jawaban atas semua pertanyaan itu. Waktu itu rembang petang, aku mengikutinya memasuki sebuah lingkungan yang lumayan elite, terlihat dari jejeran rumah yang demikian mewah. Dia menghampiri beberapa anak kecil. Kira-kira berumur 5 atau 6 tahunan. Dia menyuruhku menunggu di kejauhan. Aku tak tahu apa yang dikatakannya kepada anak-anak itu, tapi selang beberapa menit, dia telah menggandeng salah seorang dari mereka dan buru-buru mengajakku pergi. Kami bertiga, aku, lelaki itu, dan gadis kecil yang tak aku tahu namanya itu berjalan lumayan jauh, kemudian naik buskota hingga akhirnya berhenti di sebuah bantaran sungai yang sepi. Sesampainya di sana, dia melepas kalung dan gelang kecil yang sepertinya terbuat dari emas yang dikenakan gadis kecil itu. Saat itulah aku baru bisa menebak dari mana asal perhiasan-perhiasan kecil yang selama ini dijualnya untuk membiayai kehidupan kami sebelum akhirnya harus berpindah kos. Gadis kecil itu menurut saja, begitu juga waktu tangan dan kakinya diikat oleh lelaki berwajah dingin itu dengan menggunakan tali rafia yang kuat. Entahlah apa yang dilakukannya kepada gadis tersebut hingga dia menurut saja diperlakukan seperti itu, bahkan ketika lelaki itu dengan tanpa mengubah ekspresinya yang dingin dan tenang melempar tubuh dengan tangan dan kaki terikat itu ke tengah sungai. Hanya ada suara berdebur, lalu tubuh itu segera hanyut tanpa kudengar erang atau teriaknya.

    "Kau tahu Khidir? Seperti dia, aku menyelamatkan gadis kecil itu dari takdir buruk yang mungkin menimpanya ketika dia dewasa," ucapnya santai, membuyarkan keterperangahanku.

    "Mungkin saja ketika anak itu dewasa, dia akan menjadi kafir, pendurhaka orang tua, atau pelacur. Pendidikan dan gaya hidup yang diajarkan orang tuanya hanya akan membuatnya menjadi budak dari dunia. Sekarang kau tahu kenapa aku mengajakmu, kan?" Aku hanya diam saja. Segalanya seperti mimpi. Mimpi buruk yang mengerikan.

    Namun setelah kejadian itu, mimpi buruk seperti itu terus berlanjut dan aku benar-benar aktif membantunya. Kadangkala aku yang mengikat tangan dan kaki anak-anak kecil itu atau melempar tubuh tak berdaya itu ke sungai.

    Aku selalu ingat kata-kata lelaki itu setiap kali melakukan pekerjaan ini, "Kita adalah messiah yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan jiwa suci dari cengkeraman iblis jahat dunia!"

    Ya... aku adalah messiah dan hari ini, bertahun-tahun sejak misi messiahku yang pertama kali, aku merasa bahwa ada misi lain yang harus kuselesaikan dan hanya aku, tanpa lelaki itu, yang mampu melakukannya. Maka ketika lelaki itu tertidur, dengan perlahan kuasah pisau yang biasa digunakan untuk memotong daging dan sayuran yang kupinjam dari janda pemilik kos yang baru kami tempati tiga hari ini. Aku beralasan ingin memasak sendiri dan janda itu sama sekali tidak curiga. Misi kali ini istimewa karena itu aku tak mau melempar tubuh terselamatkan itu ke sungai. Aku ingin menyembelihnya. Maka terjadilah. Kubekap mulutnya yang tengah mengeluarkan suara dengkuran dan kugorok lehernya. Suara desisan keras menguar. Tak sampai lima menit, desisan itu berhenti. Tangannya berhenti mengejat-kejat.

    Lelaki itu, yang mengajariku bagaimana menyelamatkan anak-anak kecil, kini tertidur damai dengan luka menganga di tenggorokannya. Aku hanya takut jika nanti atau besok, takdir buruk akan menimpanya. Akhirnya, aku dan dia dalam posisi yang sama hari ini: satu-satunya messiah yang menyelamatkan jiwa-jiwa suci dari keburukan dunia.
***

Mojokerto, Februari 2009
 

  • Dadang Ari Murtono, anggota Komunitas Sastra Pondok Kopi, Mojokerto. Tinggal di Mojokerto, Jawa Timur
Editor :
Akses http://m.tribunjabar.co.id dan dapatkan berita terbaru langsung di ponsel anda.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
MEMBAHAYAKAN
Galeri Foto
MEMBAHAYAKAN
more on galeri foto
Sabtu, 22 Mei 2010 | 15:18 WIB
Sabtu, 9 Januari 2010 | 22:53 WIB
Sabtu, 3 Oktober 2009 | 22:42 WIB
Minggu, 6 September 2009 | 11:36 WIB
Minggu, 30 Agustus 2009 | 10:53 WIB