/ Home / Opini / Referat /
Sosialisasikan dengan Benar Bukan Sekadar Habiskan Anggaran
DOKUMENTASI
Senin, 23 November 2009 | 12:33 WIB

OLEH BILLY NS

KITA semua pasti pernah mendengar kalimat "lebih baik mencegah daripada mengobati" dan hal ini tentu memiliki dasar ilmiah. Namun saat ini kalimat ini sepertinya mendapat tantangan berat akibat masalah meninggalnya delapan orang dan ratusan orang yang mual/muntah sehingga harus masuk RS yang dicurigai disebabkan oleh penggunaan obat pencegah penyakit kaki gajah (filariasis) di Kabupaten Bandung.

Masalah ini menjadi isu nasional dan menimbulkan perselisihan antara Komisi IX DPR-RI dan Departemen Kesehatan (Tribun Jabar, 19 November 2009). Banyak anggota masyarakat pun menjadi takut untuk mengikuti program pencegahan penyakit dari pemerintah, baik untuk filariasis maupun penyakit lainnya.

Masyarakat saat ini cenderung lebih menyukai pengobatan yang jelas terlihat dan terasa efeknya, yaitu dari sakit menjadi sembuh. Dibandingkan pencegahan penyakit yang dari sehat menjadi tetap sehat (tidak terasa), bahkan kadang ada efek samping yang tidak enak, misalnya demam pada imunisasi atau mual/muntah saat menggunakan obat pencegah filariasis.

Padahal pengobatan menimbulkan kerugian dan membutuhkan biaya jauh lebih banyak dari pencegahan. Itu sebabnya pemerintah melaksanakan berbagai program pencegahan penyakit. Berbagai program pencegahan penyakit pun bukan program yang dilaksanakan tanpa dasar yang kuat, tetapi sudah diteliti benar keamanannya bagi masyarakat.

Obat, termasuk yang digunakan untuk pencegahan, pada dasarnya adalah racun yang dalam dosis tepat mempunyai khasiat untuk penyakit tertentu. Sebagai racun, tentu obat harus digunakan dengan hati-hati dan semuanya pasti memiliki efek samping.

Filariasis disebabkan oleh cacing yang berukuran sangat kecil dari golongan Brugia dan Wuchereria, biasanya disebarkan oleh gigitan nyamuk Culex/Anopheles (nyamuk malam). Penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan fisik (di antaranya `kaki gajah') yang tidak bisa kembali normal walaupun diobati dengan menghabiskan biaya puluhan juta rupiah. Filariasis ada di seluruh Indonesia, sangat mudah menyebar dan membuat semua rakyat negeri ini terancam sehingga hal ini harus dicegah.

Pencegahan filariasis adalah program dari organisasi kesehatan dunia (WHO) dan telah diberikan pada lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia, termasuk puluhan juta orang di negara kita sejak tahun 2002. Dengan biaya beberapa ribu rupiah saja, obat Albendazol dan Dietilkarbamazin yang harus diberikan setahun sekali selama lima tahun berturut-turut, terbukti aman dan efektif (juga tidak ditemukan efek samping kematian) untuk pencegahan filariasis.

Hal tersebut di atas berdasarkan literatur ilmiah dan penelitian/pemantauan program yang selama ini dilakukan di seluruh dunia. Sehingga terjadinya kasus di KabupatenBandung harus ditelusuri lebih lanjut penyebab pastinya.

Banyaknya masyarakat yang mengeluh mual/muntah setelah meminum obat tersebut adalah efek samping yang wajar di daerah yang sudah terkena dan bisa dikurangi dengan meminumnya setelah makan. Juga harus diberitahukan berbagai efek samping yang wajar terjadi setelah meminum obat dan cara mengatasinya. Untuk mencegah efek samping yang berat, obat ini sebaiknya tidak digunakan oleh penderita gangguan fungsi hati/ginjal, penyakit paru, gizi buruk, demam tinggi, hipertensi, ibu hamil/menyusui, anak di bawah dua tahun, dan seterusnya.

Hal-hal ini seharusnya disampaikan pada masyarakat melalui sosialisasi yang baik, pengawasan kondisi fisik masyarakat saat pelaksanaan, dan memastikan masyarakat meminum obatnya sesuai dosis. Pengawasan yang baik berupa masyarakat yang dicurigai telah menderita filariasis sebaiknya diobati, pemeriksaan kondisi fisik masyarakat yang sedang sakit apa bisa meminum obat/tidak, pengukuran tekanan darah, dan memastikan perempuan tidak sedang hamil/menyusui.

Untuk pelaksanaan program ini di masa depan di seluruh Indonesia, harus dilakukan sosialisasi dan pengawasan pelaksanaan yang baik, bukan sekadar untuk menghabiskan anggaran. Ini untuk mencegah hal serupa terjadi dan memulihkan kepercayaan masyarakat pada semua program pencegahan penyakit dari pemerintah.

Berbagai program pencegahan penyakit termasuk pencegahan filariasis harus terus dilakukan dan semua kasus yang terjadi harus dievaluasi oleh semua pihak yang terkait. Untuk di Kabupaten Bandung masih ada waktu satu tahun untuk evaluasi dan persiapan sebelum program tahun berikutnya dilaksanakan.

Jika program pencegahan filariasis dihentikan, maka negeri ini akan menderita kerugian besar akibat program yang telah dilakukan sebelumnya baik di Kabupaten Bandung maupun daerah lain menjadi sia-sia dan seluruh rakyat Indonesia terancam filariasis. (*)

Penulis Adalah Dokter & Pengelola Web KonsulSehat Tinggal di Bandung

 

Dibaca 844 kali  |  Dikomentari 0 kali
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Menggali Longsor di Tenjolaya
Galeri Foto
Menggali Longsor di Tenjolaya
more on galeri foto
Kamis, 21 Januari 2010 | 19:59 WIB
Senin, 28 September 2009 | 10:28 WIB
Senin, 7 September 2009 | 10:49 WIB
Senin, 22 Juni 2009 | 00:43 WIB