Home » Opini » Referat »
Menyoal Etika Berbicara Anggota Pansus Century
Kamis, 21 Januari 2010 | 19:59 WIB
A A A Dibaca 2910 kali
Iqbal Ramadan
DOKUMENTASI
Iqbal Ramadan –

Oleh  IQBAL RAMADHAN
Alumnus FISIP Universitas Padjadjaran Bandung


ALMARHUM mantan presiden Abdurahman Wahid pernah berkata bahwa lembaga DPR tidak ubahnya seperti taman kanak-kanak karena selalu meributkan pepesan kosong. Kini agaknya ucapan fenomenal beliau tersebut terwujud dari cekcoknya para anggota Pansus Century.

Tim yang dibentuk untuk mengusut bailout Bank Century tersebut kini menjadi sorotan publik. Bukan karena kinerja, melainkan perang argumentasi di antara sesama anggota. Ironis memang ketika pansus yang dibentuk untuk mengungkapkan kebenaran ternyata lebih meributkan siapa yang paling keras berbicara dan argumen yang paling benar.

Mereka tidak menyadari bahwa adu mulut antara sesama anggota mereka diekspos oleh media elektronik yang sangat mudah diakses oleh setiap orang. Selain itu, anggota pansus sendiri dikritik karena tidak mempunyai etika dalam menyampaikan pendapat. Bangsa Indonesia adalah bangsa beradab yang menjunjung tinggi keharmonisan. Sayangnya, asas kemanusiaan yang adil dan beradab tersebut tidak tampak ketika mereka menyampaikan pendapat. Apakah pantas anggota pansus mencaci anggota lainnya di depan publik? Sudahkah mereka beretika ketika menyampaikan pendapatnya di depan narasumber yang salah satunya adalah mantan orang nomor dua di negeri ini?

Filsuf Yunani bernama Isokrates pernah berkata bahwa ucapan yang disampaikan secara sopan dan beretika mencerminkan peradaban yang sangat tinggi. Setidaknya, jika berkaca pada kasus tersebut, ini menunjukkan bahwa bangsa ini masih jauh dari kata beradab. Seyogianya, sebagai anggota dewan yang terhormat, mereka menunjukkan perilaku dan etika berbicara yang berpendidikan dan beretika. Mereka sepatutnya sadar bahwa anggota dewan adalah representasi dari rakyat Indonesia.

Lebih lanjut menurut Isokrates bahwa ketika seseorang mengucapkan perkataan yang tidak didasari kesopanan dan etika maka peradaban mereka adalah adab barbar. Tentunya kita sebagai rakyat Indonesia tidak ingin Pansus Century didasari peradaban barbar. Karena tidak adanya etika berbicara yang ditunjukkan oleh beberapa anggotanya akan mencemarkan nama baik institusi sehingga citra buruk DPR akan tetap melekat selamanya.

Berbicara adalah media berkomunikasi. Sedangkan komunikasi mengandung pesan. Substansi dari pesan itulah yang ujungnya harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan etika karena semua itu bermuara ke sana. Sebagai tim yang akan mengungkapkan kebenaran, anggota Pansus Century harus memposisikan saksi sebagai narasumber dan bukan objek cacian.    

Teknik berbicara yang interogatif dan menjilat sebaiknya jangan ditampilkan karena akan menghambat kesaksian yang akan berguna di kemudian hari. Di antara anggota pansus sendiri harus ada kekompakan dan kesamaan visi untuk mengungkap bailout Century dan bukan menjadi ajang siapa yang paling kuat dan hebat.

Hal paling penting dalam etika berbicara sesungguhnya adalah kejujuran. Jurgen Habermas mengklasifikasi kompetensi bahasa dalam etika berkomunikasi menjadi tiga hal. Pertama adalah bahasa dan ucapan yang disampaikan harus mempunyai muatan kejujuran. Kedua adalah adanya regulatif yang mengarah pada norma aturan yang berlaku. Terakhir, partisipan harus menetapkan maksud yang akan diucapkannya tersebut.

Dengan demikian, untuk mengungkap informasi dari narasumber, anggota pansus harus jujur dalam berbicara. Menyanjung terlalu berlebihan ataupun mencaci dengan gaya interogatif tidak akan menyelesaikan masalah. Selanjutnya, anggota pansus pun harus memikirkan muatan moral dan etika yang terkandung karena cara mereka berpendapat dan berbicara harus bisa dipertanggungjawabkan. Tentunya mereka pun harus mempunyai maksud dari ucapan mereka. Apakah bermaksud menampilkan egosentrisme ataukah mencari kebenaran dari narasumber tersebut.

Agaknya ucapan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a bahwa taruhlah otakmu di depan lidahmu memang benar adanya. Apabila anggota pansus mau menahan egosentris mereka maka tidak akan ada adu mulut di antara sesama anggota. Jika mereka lebih beretika dalam berpendapat maka cibiran dan sikap pesimistis masyarakat Indonesia tidak akan pernah ada. Oleh karena itulah, pelajaran etika yang pernah diajarkan di sekolah-sekolah hendaknya diberlakukan kembali agar manusia-manusia Indonesia lebih beretika dalam berbicara ataupun berpendapat. (*)

Editor :
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

Para anggota Pansus bukan tdk menyadari aktingnya diekspos oleh media. Apalagi Ruhut Situmpul yg pny penglmn di sinetron. Hanya emosi utk mempertahankan kepentingan, mereka keluar kesadaran utk malu pd publik.

Komentar Oleh: Asep P. Kurnia | Sabtu, 30 Januari 2010 | 21:59 WIB

Kita semua harus percaya dan yakin, bahwa demokrasi yang sedang bergulir bak bola liar di negeri tercinta indonesia ini pada akhirnya akan berdampak positif atau negatif. Itu semua tergantung dari para praktisi politik yang sedang berkuasa. ia akan bermanfaat manakala didukung dan di tunjang oleh pribadi yang berakhlaq sebagai mana banyak kisah yang telah diajarkan oleh nabi kita Muhamad. tapi namakala hinggap pada orang yang sebaliknya, maka itulah kanyataan yang terjadi di parlemen dan lembaga tinggi lainya selalu muncul masalah yang sangat memprihatinkan semua amanah dibayar dusta, penghianatan, dan kriminalitas yang merugikan masyarakat.

Komentar Oleh: Tedy Sukamto | Sabtu, 30 Januari 2010 | 16:25 WIB

Saya setuju bung Iqbal, bahkan lebih buruk dari "seperti Taman kanak-kanak", tetapi seperti "terminal bus". Karena kata-kata "bangsat" gak akan ada di Taman Kanak-kanak, tetapi adanya di terminal bus.

Komentar Oleh: R.Sumaryono | Kamis, 28 Januari 2010 | 15:12 WIB

Akses http://m.tribunjabar.co.id dan dapatkan berita terbaru langsung di ponsel anda.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
MEMBAHAYAKAN
Galeri Foto
MEMBAHAYAKAN
more on galeri foto
Minggu, 29 Agustus 2010 | 22:22 WIB
Minggu, 22 Agustus 2010 | 20:57 WIB
Jumat, 20 Agustus 2010 | 18:37 WIB
Rabu, 18 Agustus 2010 | 21:37 WIB