Home » Internasional »
MEMPROMOSIKAN POTENSI INVESTASI BANDUNG (3?Habis)
MIDA Salut dengan Bandung
Oleh Pitoyo
Kamis, 28 Januari 2010 | 10:42 WIB
A A A Dibaca 388 kali
Wali Kota Bandung H Dada Rosada di Singapura
tribunjabar dok
Wali Kota Bandung H Dada Rosada di Singapura – Wali Kota Bandung H Dada Rosada di Singapura.

 

SETELAH studi ke Singapura, rombongan beranjak ke Kuala Lumpur Malaysia, dengan tujuan sama, studi tentang promosi mengenai potensi investasi Kota Bandung. Hanya saja, kunjungan ke Malaysia tidak dipimpin oleh Wali Kota Bandung Dada Rosada, tetapi oleh Ketua Bappeda Kota Bandung H Taufik Rahman, didampingi Kepala Dispenda Yossi Irianto serta Dewan Pengembangan Ekonomi (DPE) Kota Bandung.

 

Taufik langsung menuju kantor MIDA (Malaysian Industrial Development Autority) di lantai 3 dan langsung disambut Mohd Hashim Abdul Ghani, Director Cross Border Investment Promotion Division, didampingi Hazli Jemaat, Deputy Director Cross Border Investment Promotion Divison. Pertemuan berlangsung sangat akrab, apalagi sambutan dengan menggunakan bahasa Melayu.

 

"Saye akan menyampaikan dengan bahasa Melayu saje," kata Hashim, disambut senyuman dan anggukan rombongan dari Bandung, di Kantor MIDA, Kamis (21/1).

 

Menurut Hashim, MIDA merupakan agen pemerintah yang bertanggung jawab untuk riset, perencanaan, promosi potensi investasi pemerintah Malaysia. Lembaga ini didirikan pada 1967. MIDA berada di bawah Kementerian Perdagangan dan Industri Malaysia, dan memiliki perwakilan di semua daerah Malaysia. Investor yang berminat berinvestasi di negara bagian Malaysia wajib mengajukan permohonan ke MIDA, kemudian ditindaklanjuti ke daerah, dengan waktu yang terukur dan proses cepat.

 

Guna meningkatkan investasi di Malaysia, MIDA juga membuka perwakilan di luar Malaysia, di Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika Serikat. "Kami berusaha terus menawarkan dan mempromosikan potensi Malaysia kepada investor asing dari negara mana pun," ujar Hashim.

 

Bila melihat tren investasi di Malaysia, menurut Hashim, pada 1970 terbanyak bidang jasa 42,6 persen, disusul bidang pertanian 33,6 persen. Pada 2008 bidang jasa lebih dominan dengan menududuki urutan pertama sebesar 54,3 persen, disusul manufacturing 29,6 persen, sedangkan pertanian Turín tingla 7,5 persen, pertambangan 8,4 persen, konstruksi 3 persen.

 

Taufik menanyakan pola promosi yang dilakukan MIDA ke negara investor sehingga begitu antusias berinvestasi di Malaysia. Menurut Hashim, Malaysia terus-menerus melakukan perubahan dan perbaikan iklim investasi menyesuaikan dengan kebutuhan investor. Di antaranya dengan pemotongan pajak korporat, misalnya pada 2007 sebesar 27 persen, pada 2008 diturunkan 1 persen, pada 2009 turun 1 persen lagi. Pemotongan pajak ini berpengaruh besar pada iklim investasi.

 

Hanya saja, lanjut Hashim, MIDA langsung berada di bawah pemerintah pusat. Hashim justru salut dengan langkah Pemerintah Kota Bandung yang menggagas promosi investasi langsung ke Malaysia dan Singapura karena bisanya dilakukan oleh pemerintah pusat. Taufik menjelaskan, Pemerintah Kota Bandung berupaya mengembangkan ekonomi kota yang sehat dan berkelanjutan. Karena itu, peran swasta sangat dibutuhkan mengingat pembangunan kota tidak cukup bila hanya mengandalkan anggaran dari pemerintah.

 

Popy Rufaidah, B.Com (Hon), MBA, Ph.D, dosen Universitas Padjadjaran yang juga Wakil Ketua Dewan Pengembang Ekonomi Kota Bandung, menanyakan, apakah negara bagian Malaysia juga diberi kewenangan untuk mempromosikan potensi investasi langsung ke luar negeri. Hashim menjawab, negara bagian Malaysia dalam mempromosikan masih dikoordinasikan oleh MIDA.

 

Pertemuan diakhiri dengan saling tukar cendera mata, dari Pemerintah Kota dan MIDA. Setelah dari MIDA rombongan pemerintah Kota Bandung diundang makan siang bersama Wakil Duta Besar RI di Malaysia, Tatang B Razak, yang asli Bandung. Alumnus Unpad ini menyambut dengan sapaan, "Kumaha damang?"

 

Tatang mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Bandung yang dengan gigih melakukan promosi investasi ke Malaysia. Menurutnya, Malaysia berkembang cukup pesat dalam menarik investor. Namun perlu juga sikap hati?hati dalam menerima investor asing, termasuk dari Malaysia.

 

"Sebaiknya hati?hati dan koordinasi dengan kami, biar kami melakukan verifikasi, siapa dan berapa modalnya dan yang lebih penting ada duitnya apa enggak," katanya.

 

Diskusi berlangsung cukup serius, tapi sesekali diselingi humor, dan diakhiri makan siang bersama. Sepulang dari Kedutaan Besar RI di Malaysia, Taufik mohon diri untuk balik ke Bandung. (*)

 

 

Editor :
Akses http://m.tribunjabar.co.id dan dapatkan berita terbaru langsung di ponsel anda.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
TERPAKSA DI TOILET
Galeri Foto
TERPAKSA DI TOILET
more on galeri foto
Selasa, 7 September 2010 | 13:21 WIB
Selasa, 7 September 2010 | 13:05 WIB
Selasa, 7 September 2010 | 13:06 WIB
Selasa, 7 September 2010 | 13:20 WIB
Senin, 6 September 2010 | 12:13 WIB