Oleh CECEP BURDANSYAH
Wartawan Tribun
KETERSINGGUNGAN Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap para pendemo yang membawa kerbau dan menginjak-injak gambar dirinya memang layak dimaklumi. Sebagai manusia, ketersinggan itu memang manusiawi.
Namun sebagai presiden, SBY tidak boleh berlarut-larut dengan perasaan. Anggap saja para pendemo yang overacting itu sebagai manusia yang belum memahami makna demokrasi. Mereka baru memahami bahwa demokrasi itu identik dengan mengumbar hujatan, unjuk rasa atraktif, tanpa etika. Biarlah urusan etika berdemokrasi menjadi tanggungjawab masyarakat sendiri. Sebab kedewasaan demokrasi itu merupakan cerminan kedewasaan masyarakatnya juga.
Boleh-boleh saja SBY mau memberi edukasi kepada para pendemo agar mereka jadi dewasa. Tapi sepertinya di tengah limbungnya penegakan hukum, ekonomi yang belum stabil, kemiskinan masih meluas, lebih baik SBY memfokuskan diri kepada masalah-masalah yang menjadi prioritas untuk menyejahterakan rakyat dan memulihksn citra hukum.
Serahkanlah urusan mengedukasi masyarakat agar dewasa dalam berpolitik. Biar itu menjadi tugas para akademisi, aktivis pergerakan, LSM, dan masyarakat sendiri. Mereka lambat laun juga akan menyadari, bahwa berdemokrasi itu bukan sekadar urusan sumpah serapah, aksi turun ke jalan, ganyang sana ganyang sini untuk merebut kekuasaan semata. Pada akhirnya mereka juga akan sadar bahwa berdemokrasi itu adalah urusan keseimbangan antara haki dan kewajiban.
SBY harus mendengar saran yang disampaikan Syafii Maarif, jangan terlalu menyibukkan diri dengan soal-soal cetek dan sepele, seperti peluncuran album. Sebagus apa pun suara SBY dan selaris apa pun albumnya, tidak akan menjadi parameter kesuksesannya sebagai presiden.
Ia hanya akan dilihat sebagai berhasil kalau rakyatnya sudah sejahtera, tidak ada yang kelaparan, semua memiliki akses sekolah di perguruan tinggi, mendapat pelayanan kesehatan yang maksimal.
SBY harus merenung, sudah seratus hari ia melakoni tugasnya yang kedua sebagai presiden, namun kenyataannya rakyat makin apatis dengan peemrintahaannya. Ia mesti melihat dengan memusatkan diri ke dalam dirinya. Ia harus bertanya, ada apa saya dengan rakyat, sehingga mereka mudah kecewa atas pemerintahannya.
Hanya dengan cara melihat ke dalam diri sendirilah, maka energi SBY kemudian akan menjadi outpun yang baik bagi bangsanya. Ia akan terpacu untuk menjawab semua kritikan dan bahkan ledekan, dengan kinjerja yang jelas dan terukur. Dengan demikian, rakyat pun akan melihat bahwa presidennya tegar, tidak cengeng seperti sekarang ini.(*)
SBY cengeng,..! Pantaslah menterinyapun pada cengeng. Contoh saja Mendiknas, minta-minta pada DPR dan MA agar UN tetap dilaksanakan meskipun sudah ada putusan hukum, dgn dalih dan janji, pelaksanaannya akan diperbaiki. Sy tdk yakin kalau itu mampu dilkasanakan, karena kecurangan dan penyimpangan UN telah mendarah daging. Dan UN, habis-habisan dipertahankan, karena mrpkan proyek besar tahunan bg oknum2 pejbt pendidikan.