Seperti bencana lain, banjir Cieunteung dan longsor yang merontokkan benteng The Green Ciumbuleut sudah pasti melahirkan penderitaan. Tapi bencana juga diam-diam bisa melahirkan humor dan kambing hitam. Seperti terungkap dalam dialog di bawah ini.
"Apa penyebab banjir?" tanya seorang guru yang tengah mengetes kemampuan anak didiknya.
"Air!" teriak seorang anak di antara banyak murid yang mengacungkan tangan untuk mendapat kesempatan menjawab pertanyaan sang guru.
Dalam anekdot di atas, jawaban si anak tentu tidak salah. Namun jelas bukan itu jawaban yang diharapkan sang guru. Karena jawaban itu sama kadarnya dengan menyebut api sebagai penyebab kebakaran. Tapi di situlah letak kelucuannya. Itulah (kekuatan) humor.
Dengan menyebut air sebagai penyebab banjir, seperti anekdot di atas, kita secara tidak langsung tengah mencari kambing hitam. Tidak berbeda dengan kita menunjuk volume hujan yang tinggi sebagai satu-satunya penyebab banjir yang merendam Cieunteung dan longsor yang menggerus benteng The Green Ciumbuleuit.
Padahal banjir dan longsor tersebut sangat mungkin karena kelalaian dan kesalahan kita. Bencana yang datang berulang itu sangat mungkin karena kita tidak lagi ramah dan bahkan ikut merusak lingkungan. Bukankah kita dengan enteng dan tanpa rasa bersalah biasa melempar kulit rambutan atau bungkos rokok dari balik kaca mobil.
Ketika banjir datang atau longsor melanda, kita tidak pernah menunjuk diri sendiri sebagai penyebab bencana yang seperti sudah langganan datang dalam kehidupan kita. Jujur saja, selama ini kita bisanya hanya menuding pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas bencana. Walaupun menjamurnya perumahan elite di kawasan
Rasanya akan lebih bijaksana bila kita bisa menemukan pesan dari anekdot atau humor yang dicontohkan di atas. Kita jangan sibuk mencari kambing hitam. Mari kita ngaji diri sendiri! (*)