Tak pelak, kaburnya dana asing menjadi salah satu pemicu anjloknya bursa saham
Harga 146 saham merosot, 56 saham stagnan, dan hanya 32 saham yang harganya masih bisa naik. Koreksi saham-saham blue chips, seperti saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM), Unilever Indonesia (UNVR), dan Astra International (ASII) memberikan kontribusi besar terhadap kejatuhan indeks.
Sebenarnya, tren hengkangnya dana asing mulai terlihat sejak akhir bulan lalu dan berlanjut hingga kini.
Vice President Valbury Asia Futures, Nico Omer Jonckheere, menilai kondisi ini menjadi indikasi investor asing mulai ragu menanamkan modal di Indonesia. Apalagi, belakangan ini kondisi pasar saham finansial di Amerika Serikat (AS) perlahan-lahan tampak cerah. Sehingga, para investor tertarik membenamkan asetnya di
Direktur Financorpindo Nusa, Edwin Sinaga, menimpali bahwa nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia cenderung menguat. Ini memicu investor ramai-ramai menjual aset non-dollar AS dan beralih ke mata uang itu.
Pesona dollar semakin terlihat ketika aura negatif juga membayangi pasar Eropa. Negara seperti Yunani, tengah diguncang problem defisit anggaran sehingga menyeret nilai tukar euro. Keterpurukan IHSG semakin lengkap tatkala nilai tukar rupiah terus melemah. Merujuk kurs tengah Bank
Kepala Riset Recapital Sekuritas, Poltak Hotradero, punya pendapat lain. Menurut dia, keluarnya dana asing dari bursa saham adalah hal lumrah. "Sebagai investasi jangka pendek, saya rasa asing melakukan profit taking," kata dia. Apalagi, tidak ada larangan asing untuk keluar-masuk pasar saham
Roy Sembel, Kepala Riset Capital Price, menilai, keluarnya dana asing tak akan berlangsung lama. Dia yakin
Pada posisi ini,