NAMA Pondok Inabah kembali mencuat. Berita kaburnya lima belas santri Pondok Inabah 17 Putra, Cijulang, yang merupakan bagian dari Pesantren Suryalaya, Pagerageung, itu, mengejutkan banyak pihak. Sejak lama, pondok ini dikenal sebagai tempat rehabilisi atau penyembuhan korban kecanduan narkoba.
Sejak berdiri 30 tahun lalu, Pondok Remaja Inabah yang sekarang ini jumlahnya mencapai 26 dan tersebar di berbagai daerah sudah menyembuhkan sekitar 250 ribu orang pecandu narkoba.
"Mereka itu berasal dari berbagai kalangan, usia dan daerah asal. Bahkan juga dari berbagai agama," ujar KH Zaenal Abidin Anwar, salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya, Rabu (3/3) lalu.
Pak Zein, begitu panggilan akrab KH Zaenal Abidin Anwar, menceritakan, embrio lahirnya Pondok Remaja Inabah muncul sekitar tahun 1968. Ketika itu, Pondok Pesantren Suryalaya di Pagerageung, Tasikmalaya, menerima titipan anak korban narkoba.
"Saat itu ada orang tua yang menitipkan anaknya ke sini untuk minta disembuhkan. Dengan terapi zikir oleh Abah (Abah Anom, pengasuh Ponpes Suryalaya), alhamdulillah anak tersebut sembuh. Itu terjadi tahun 1968. Dalam perkembangan kemudian banyak orang tua yang menitipkan anaknya dengan gejala serupa. Tapi saat itu belum dilembagakan," ujarnya.
Tahun 1971, mulailah dirintis pembentukan lembaga Pondok Remaja Inabah guna menampung para korban penyalahgunaan narkoba tersebut. "Dan tahun 1980 keberadaan Pondok Remaja Inabah ini diresmikan oleh Mensos (waktu itu), Ny Nani Sudarsono," kata Pak Zein.
Inabah pertama yang berdiri resmi tersebut lanjut Pak Zein adalah Pondok Inabah Putra di Cibeureum Panjalu Ciamis (sekarang Cibeureum Sukamantri) yang dikelola KH Anang.
Seiring waktu, keberadaan Pondok Remaja Inabah ini semakin berkembang. "Sekarang ada 26 Inabah yang masih aktif. Yakni 21 Inabah di dalam negeri dan lima Inabah di luar negeri," jelasnya.
Di dalam negeri antara lain enam pondok di Ciamis, lalu di Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bandung, Kalimantan, Jatim, dan Bogor. Sementara Inabah di luar negeri adalah empat di Malaysia dan satu di Singapura.
Dari 26 Pondok Remaja Inabah itu, sejak 1980 hingga 2010 sudah berhasil menyembuhkan sekitar 250 ribu pecandu narkoba.
"Juga telah berhasil melatih sejumlah instruktur untuk panti-panti rehabilitasi, termasuk panti rehabiltasi milik BNN di Lido Bogor," ujarnya.
Semua Pondok Inabah menggunakan metode yang sama untuk untuk penyembuhan korban penyalahgunaan narkoba, yakni menggunakan metode hidroterapi dan zikir. "Sekarang ada tambahan metode baru yakni metode partisipasi masyarakat yang mulai dikembangkan," imbuhnya.
Sementara metode intinya, yakni hidroterapi, mirip mandi junub yang diterapkan ketika santri Inabah itu kambuh "sakawnya".
Mandi tersebut tidak hanya dilakukan tengah malam, tetapi kapan saja, terutama saat sakaw-nya kambuh.
Terapi mandi ini katanya adalah untuk menghilangkan kotoran lahir lantaran pecandu narkoba biasanya jarang mandi, termasuk perempuan sekalipun. Dengan mandi pula bisa menyembuhkan jiwa yang stres, menghilangkan godaan setan hingga menurunkan suhu badan yang panas serta menurunkan kadar gangguan saraf.
Setelah metode mandi, dilanjutkan dengan terapi zikir, salat, baik yang wajib maupun yang sunat, mengaji, dan kegiatan ibadah lainnya.
Santri baru Inabah menurut Pak Zein, satu bulan pertama biasanya dikarantina dulu tidak boleh berhubungan dengan keluarganya dan di bawah pengawasan ketat para pengasuh. Saat ini merupakan masa-masa yang rawan, seperti rawan kabur karena tidak betah dan jenuh. Karena itu sebenarnya santri kabur itu bukan hal yang aneh.
"Ya di rumah sendiri saja mereka ini tidak betah, apalagi di pondok, lebih tidak betah lagi. Tapi biasanya biasa ketemu lagi dan kembali lagi. Sarung atau mukena merupakan alat yang sering digunakan untuk kabur," ujar Pak Zein.
Meskipun demikian kata Pak Zein, keberadaan Inabah harus tetap jalan tentunya dengan perbaikan metode dan kondisi pondok. Itu dilakukan agar santri lebih betah dan tidak jenuh.
Begitu pula menurut AKBP Dra Ni Made Labansari, Kepala Pusat Rehabilitasi BNN, ketika penandatanganan MoU BNN dan Pondok Inabah II Puteri Ciomas Panjalu, beberapa hari lalu, bahwa keberadaan Pondok Inabah ini harus dipertahankan.
"Pondok ini kan berbasis masyarakat lahir dari masyarakat, dengan metode pendekatan keagamaan. Hasilnya sudah banyak. Makanya BNN akan selalu berkoordinasi dengan Inabah," ujar Ni Made Labansari. (Andri M Dani)