TASIKMALAYA, TRIBUN – UPTD PMI Cabang Tasikmalaya tekor stok darah sejak beberapa hari terakhir ini. Dari kebutuhan darah sekitar 35 labu per hari, pihak PMI hanya mampu menyediakan sebanyak 17 labu saja. Akibatnya, keluarga pasien terpaksa membawa donor sendiri ke PMI untuk dilakukan transfusi.
“Kita selalu keteteran stok darah. Padahal kebutuhan darah sangat vital, karena biasanya pasien yang membutuhkan darah, kondisi tubuhnya dalam keadaan mengkhawatirkan,” ungkap Kapala UPTD PMI Cabang Tasikmalaya, dr H Tata Rachman, disela gelar donor darah anggota Satpol PP Kota Tasikmalaya, di kantor Satpol PP, Jumat (12/3).
Menurut Tata, minimnya stok darah di PMI akibat kecilnya tingkat donor di wilayah kota. “Masyarakat masih banyak yang enggan melakukan donor, karena harus diakui masih terdapat informasi yang salah terkait kegiatan donor darah. Mereka beranggapan dengan menjadi donor, tubuh akan sakit-sakitan. Padahal isu itu tidak benar,” tandasnya.
Karena kondisi seperti itulah, stok darah yang ada di PMI sebagian besar hasil donor instansi pemerintah, militer atau pun swasta yang menggelar bakti sosial donor darah. Sehingga bisa dihitung hanya berapa saja stok darah yang ada di PMI. “Paling banter kita hanya punya 500 labu tiap bulan. Padahal stok minimal harus 1.000 lagu, disesuaikan dengan data statistik kebutuhan darah selama ini,” jelas Tata.
Sedangkan pendonor perorangan bisa dihitung dengan jari. Karena memang sangat sedikit warga yang memiliki kesadaran untuk menyumbangkan sedikit darahnya kepada sesama yang membutuhkan. “Dari perorangan inilah sebenarnya yang kita harapkan menjadi pendonor paling banyak,” ujar Tata.
Eri (33), salah seorang warga yang tengah melakukan donor darah di PMI, Jalan Lakswi, menuturkan, ia menjadi pendonor karena bermaksud menolong istri temannya yang akan dioperasi. “Teman saya mengumumkan butuh darah, karena darah di PMI kosong. Kebetulan golongan darahnya sama dan saya bersedia. Mudah-mudahan saya dalam keadaan sehat,” tuturnya.
Sementara, Eko (35), pendonor lainnya, mengaku melakukan donor darah karena sudah menjadi kegiatan rutin. “Saya tiga bulan sekali mendonor darah. Setelah darah diambil badan rasanya segar. Kalau telat diambil, perasaan selalu lemas. Entah sugesti atau ada faktor lain,” ungkap warga Perum Baitul Marhamah, Kecamatan Mangkubumi, ini. (tribunjabar/stf)