BANDUNG, TRIBUN - Permintaan masyarakat agar tarif angkutan umum turun menyusul turunnya harga solar menjadi Rp 4.800 dari harga semula Rp 5.500, sulit dipenuhi para pengusaha bus. Turunnya harga solar belum cukup untuk menggantikan pembelian suku cadang
"Pada saat BBM naik, harga suku cadang naik 4 hingga 5 kali lipat. Saat BBM turun, harga suku cadang tetap," kata Pengusaha PO Sari Harum yang juga Ketua Himpunan Pengusaha Otobus Indonesia Dedi Hasan (59), di Jalan Padasuka 29 Bandung, Selasa (16/12).
Sebenarnya Dedi dan pengusaha bus lainnya menyambut baik imbauan pemerintah untuk menurunkan tarif angkutan bus. Apalagi sangat berkaitan dengan upaya peningkatan daya beli masyarakat. Hanya saja, para pengusaha bus juga dalam kondisi yang sulit. Sulit mebiayai dirinya sendiri agar tetap beroperasi.
Pengusaha PO Surya Langit H Herdis (50) di Jalan Gedebage Selatan mengungkapkan pernyataan serupa. Katanya, jika pemerintah menghendaki penurunan tarif angkutan darat, penurunan solar Rp 700 belum cukup. Idealnya, kata dia, solar turun sampai kisaran harga Rp 4.000.
"Kami mungkin bisa menerapkan tarif batas bawah, asalkan soal turun lagi dan suku cadang juga turun," katanya.
Suku cadang yang paling dominan diganti dalam sebulan adalah ban, kampas rem, dan kampas kopling. Bagi bus-bus yang berumur sering mendapatkan perawatan overhoul atau perawatan berat dan perlu penggantian oli secara rutin. Jika semua kebutuhan tersebut harganya tetap mahal, maka pengusaha bus pun tidak bisa memenuhi harapan masyarakat. Herdis mencontohkan, harga ban saat BBM naik menjadi Rp 3.250.000 dari harga semula Rp 1,5 juta. Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda harga ban akan turun mengikuti turunnya harga BBM.
Dampak turunnya harga solar tak berdampak besar terhadap usahanya. PO Surya Langit yang beroperasi dari Bandung-Jakarta hanya menghemat ongkos Rp 80.000. Untuk operasional sebelum solar turun, ia menghabiskan ongkos sebesar kisaran Rp 900.000 atau setara dengan 120 liter soal. (ear)