I
TERKADANG ia membayangkan dirinya adalah Sabai nan Aluih. Perempuan yang memanggul bedil gobok laras panjang. Bedil yang nantinya akan diletuskannya ke dada Tuan Lareh. Ya, tepat di dada Tuan Lareh butiran peluru bulat sebesar biji kelereng akan menghunjam. Bahkan jantung Tuan Lareh akan remuk dikoyak butiran panas tersebut.
Begitulah ia membayangkan dirinya. Sesekali ia akan menjadi Sabai nan Aluih, terkadang Siti Nurbaya, bahkan seolah Siti Manggopoh. Setiap kejadian yang dialaminya, ia akan merupa perempuan-perempuan lama yang dianggapnya perkasa. Ia terus membayangkan dirinya merupa kisah-kisah lama yang didengungkan entah dari siapa. Kisah-kisah yang membuatnya terkesima.
II
PEREMPUAN itu bernama Jamilla, tepatnya Jamilla bin Labai. Ia paling suka duduk di depan pintu rumah, tepat di jenjang paling ujung telapak kakinya akan melantai dengan santai. Atau sesekali ia akan duduk di bandul jendela di mana kakinya akan menjuntai ke arah luar. Jika kalian membayangkan dirinya sebagai apa yang ia bayangkan—Sabai nan Aluih, Siti Nurbaya, atau Siti Manggopoh—mungkin kalian akan berusaha menyamainya atau tidak sama sekali.
Jamilla dilahirkan tepat ketika ayahnya menjadi datuk. Gelar tinggi dan berkuasa di kampungnya. Gelar yang kelak membuat ayahnya menguasai tanah-tanah milik kaumnya. Tumpak-tumpak sawah, ladang, perairan, lumbung padi, ayahnyalah yang mengatur segalanya. Datuk Sibincacau, itulah gelar yang didapat ayahnya dalam sebuah pesta pengangkatan yang meriah. Di pesta tujuh hari tujuh malam para pembesar di kampung memberinya tuah akan gelar tersebut.
Atas sumpah tanah, langit, dan kesakitan pohon-pohon yang tumbuh di antaranya. Kiranya begini bunyi sumpah yang tiap kali pengangkatan datuk dilaksanakan: di bawah tidak berurat, di atas tidak berpucuk, dan di tengah digirik kumbang. Sumpah yang begitu sakit dan menakutkan! Atas ingatan para datuk terhadap pendahulu, muasal kampung dibuka mula huniannya. Pendahulu yang telah menusukkan tongkatnya di satu titik tanah dan menunjuk ke sehamparan tanah lain yang paling jauh. Di sanalah nantinya batas untuk kampung. Batas tersebutlah yang akan menjadi tempat terukaan sawah dan ladang, pandam-pekuburan, gelanggang ramai, pasar kecil, surau, tentunya rumah-rumah tempat beranak pinak orang-orang kampung didirikan.
Rumah yang juga telah dinubuatkan bentuk lengkap dengan filosofinya oleh para pendahulu kampung—datuklah yang akan menjaga apa yang telah disepakati para pendahulu tersebut. Tentunya termasuk Labai, Datuk Sibincacau yang telah disumpah menjadi pemuka kaum dan kampung.
Jamilla selalu membayangkan dirinya terkepung di rumah yang telah dibuat ayahnya. Rumah dengan bangunan kayu yang membentuk kapal yang atapnya lancip- meruncing ke langit, merupa tanduk yang terus ingin menusuk. Rumah yang lengkap dengan segala lambang kebesaran gelar dan kekuasaan ayahnya.
Rumah inilah yang membuatnya merasa kesepian, bertahun-tahun tanpa dendang seorang perempuan yang akan dipanggilnya sebagai ibu kandung belahan jantung. Tapi di beberapa bagian rumahnya tersebut, Jamilla paling suka duduk di pintu sambil memandang ke arah jenjang dan seringkali ia hitung berapa banyak papan pipih yang ditambatkan hingga menjadi jenjang.
Sebanyak perempuan yang datang dan pergi dari rumah inikah? Perempuan- perempuan malang yang tidak bisa kupanggil ibu. Begitulah pikirannya selalu berkelebat.
Sesekali Jamilla akan duduk di jendela sambil mengusap-usap sebuah motif ukiran di sisi jendela tersebut. Ia sangat suka ukiran tersebut dibandingkan dengan ukiran-ukiran lain berbagai bentuk yang bersebaran di dinding bagian depan rumahnya. Kaluak paku, itulah nama ukiran yang menempel di sisi jendela. Ukiran yang ia maknai sebagai sesuatu yang padu dengan dirinya.
"Kaluak paku, Nak. Kau tahu apa maknanya? Sesuatu yang menjalar, berkelok, menanjak, dan ia lembut. Kaluak paku, menyamai dirimu. Yang bertahan di segala rebahan pohon-pohon adalah kaluak paku. Suatu kali akan kaumaknai maksud ayahmu ini." Begitulah ia mengingat bisikan Datuk Sibincacau, di suatu ketika sebelum ia tertidur di atas pangkuan ayahnya itu.
III
"DI kandungan siapakah aku lahir?"
Jamilla bertanya pada sebuah pigura usang yang berisi foto hitam-putih ayahnya. Foto setengah badan dengan pakaian kebesaran datuk yang lengkap.
"Di kandungan siapakah aku lahir? Hindun, Sarifah, Rabi'ah, Samsiar, Latifah, atau perempuan-perempuan lain yang kaukawini tanpa sepengetahuan orang-orang kampung? Perempuan yang tak pernah bisa kupanggil ibu. Perempuan yang setiap kali bulan turun, ia juga turun dari jenjang rumah."
Jamilla bertanya terengah-engah. Seolah pertanyaan yang ia lesatkan ke foto tersebut telah menghabiskan tenaga dan membuatnya sangat sesak. Jamilla yang duduk di depan pintu rumah kembali menghitung-hitung banyaknya papan pipih yang ditambatkan hingga menjadi jenjang. Lima belas papan pipih! Begitulah hasil di tiap hitungan dan akan selalu ia ulang hitungannya.
"Sebanyak itukah ibuku? Dan di kandungan siapakah muasal dagingku menggumpal Di perut buncit siapakah pusarku tumbuh dan dipanjangkan?"
Jamilla bergerak ke arah jendela. Ia duduk di atas bandulnya. Ia lalu mengusap-usap ukiran kaluak paku yang menjadi kebanggaannya.
"Inikah yang kaukira mengumpamakan diriku?"
Tangisnya pecah. Digeraikannya rambut yang tadinya tertutup oleh balutan kain tingkuluk. Ia menjuntaikan kaki ke arah luar jendela dan menggoyang-goyangkannya. Goyangan kaki yang senada dengan irama jantungnya.
Kali ini Jamilla berusaha membayangkan dirinya sebagai Sabai nan Aluih, perempuan kuat dan tangguh. Atau barangkali Siti Manggopoh, yang juga tangguh di matanya. Tapi kali ini tidak untuk Siti Nurbaya. Karena dari itulah kisah ini bermula. Kisah Jamilla yang bersumpah menyamai hebatnya sumpah para datuk: di bawah tidak berurat, di atas tidak berpucuk, dan di tengah digirik kumbang...
IV
"AKU tak mau dan tak akan mau lagi!"
"Tapi kau harus dengarkan ayah. Dia anak Datuk Sampono, datuk kebanggaan di kampung kita. Tumpak-tumpak sawah dan ladang kaum yang dipegangnya menghampar luas melebihi tumpak tanah kaum yang ayah miliki. Kau harus..."
Sebelum ucapan Datuk Sibincacau sampai, Jamilla mendahuluinya.
"Ayah ingin kejadian dahulu terulang lagi? Persis sama seperti ini."
"Lain, Jamilla, anak Datuk Sampono berbeda dengan anak Datuk Rajo Putih."
"Apa perbedaannya? Oh, karena anak Datuk Sampono lebih sedikit hitungan istrinya dibandingkan anak Datuk Rajo Putih? Sama saja, ayah. Sama seperti ayah. Dan bahkan sampai saat ini aku hanya tahu tentang kelahiranku. Tapi tak tahu perempuan manakah yang telah menanggungku di buncit perutnya selama sembilan bulan."
Kali ini Jamilla merasa menjadi Siti Nurbaya yang dipaksa menerima pinangan dan tak dapat melawan kehendak ayahnya. Ia tak bisa merupa Sabai nan Aluih atau Siti Manggopoh yang mempertahankan pendiriannya. Jamilla teringat beberapa waktu yang lalu seketika ia dipinang oleh anak Datuk Rajo Putih. Nurman namanya, saudagar keliling yang dimodalkan ayahnya dari hasil tanah kaum yang dipegang. Nurman kaya di rantau dan telah memperistri tujuh gadis kampung. Jamilla tidak menginginkan pinangan itu sehingga ia menolaknya.
Dan kini, anak Datuk Sampono yang datang kepadanya, datang meminangnya. Anak Datuk Sampono yang juga saudagar kaya dan telah memperistrikan lima gadis di kampung. Jamilla tak menginginkan itu, ia tak ingin suatu ketika anak yang dilahirkan akan menyamai kisahnya. Ia tak ingin nanti anak tersebut mendapatkan status buruk oleh orang-orang di kampung, seperti dirinya. Yang lahir dari perempuan entah dan yang hanya ia ketahui, bahwasanya ia lahir seketika ayahnya diangkat menjadi datuk. Ya, hanya itu yang diketahuinya selama ini dari ayahnya. Ia juga tak mengetahui kabar lain dari orang-orang kampung karena selama ini pergaulannya dibatasi oleh angkuhnya dinding rumah beragam ukiran dan berjenjang lima belas papan pihih—sesuatu yang membuat orang-orang bergeming untuk naik dan berkunjung ke rumahnya.
V
SEMENJAK itulah Jamilla memungkiri hal-hal yang dianggap tabu oleh orang-orang kampungnya: duduk di pintu, di ujung jenjang, dan di jendela tak baik bagi anak gadis. Tapi ia tak peduli. Ia terus menghitung berapa banyak papan pipih yang ditambatkan hingga menjadi jenjang rumahnya. Dan ukiran kaluak paku di pinggiran jendela rumahnya itu, selalu ia usap-usap, dan di dalam batin ia berungkap: tak benar adanya diriku seperti ukiran ini!
Pada saat-saat seperti inilah ia membayangkan dirinya sebagai Sabai nan Aluih, mungkin Siti Nurbaya, atau Siti Manggopoh (dan barangkali sebagai ibu kandung belahan jantung yang selalu ingin didekapnya). Jamilla duduk menyudut di bandul jendela, kakinya berjuntai-juntai seirama dengan geletar jantungnya.
VI
...aku mengutukmu seperti sumpah para datuk yang tak dijalani sebagaimana mestinya. Hidup atas sumpah pohon-pohon sakit yang menjadi perlambang atas kekuasaan gila. Dengan lesung dan alu yang selalu digenggam dan ditumbuk-tumbukkan oleh para perempuan kampung, aku bersumpah: dirimu di bawah tidak berurat, di atas tidak berpucuk, di tengah digirik kumbang!
Jalantunggang-Padang, 2009